My Blog List

Monday, September 29, 2014

Penyembahan yang benar

APA ITU MENYEMBAH (whorship)
Kej 22:25 muncul kata worship pertama kali. Worship dalam bahasa ibrani ”Shachah” artinya berarti tengkurap, membungkuk, meringkuk, menjatuhkan diri, tiarap, memohon dengan rendah hati, bertindak patuh,  menghormati dan menunduk. Ke-24 tua-tua yang dilihat Yohanes di sekeliling takhta Allah dalam Wahyu 4 menyembah Allah dengan cara bersujud. Membungkuk, berlutut, menunduk, tengkurap – semua itu adalah sikap hormat kepada seorang yang lebih tinggi dalam pribadi, posisi, maupun kuasa. Inilah posisi-posisi penyerahan, penundukan, dan penghambaan diri. Sikap penyembahan bisa dilakukan secara jasmani penyembahan tidaklah sepenting sikap hati kita. Allah tidak semata-mata mencari bungkukan tubuh jasmani kita; Ia sedang mencari roh yang rendah hati yang rela untuk  membungkuk. Manusia selalu memberikan penampilan luar yang baik, tetapi Allah melihat hati. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Ia mengetahui segala sesuatu mengenai kita, yang baik ataupun yang jahat.
Matius 15:8, bangsa ini menyembah tapi hatinya menjauh. Mengapa hati?? “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahataan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya” – ( Kejadian 6:5-6) Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hatiNya: “ Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan” ( Kejadian 8:21 ) Kecenderungan hatinya “ mengacu kepada pikiran; memilukan hatiNya “ melibatkan emosi; dan “ yang ditimbulkan hatinya” menunjuk pada kehendak. Ketika Allah berkata bahwa Ia menginginkan hati kita, itu berarti Ia mencari pikiran kita, emosi kita, dan kehendak kita. Ia ingin agar kita dapat menyerah total kepada-Nya dalam ketiga bidang itu, sehingga Ia bisa memiliki kendali sepenuhnya atas pemikiran kita, perasaan kita, dan perbuatan kita. Itulah penyembahan yang sejati. Allah sedang mencari orang-orang yang akan menyembahNya dari hati mereka.
Allah menguji Abraham pada titik kasih duniawinya yang paling besar: Ishak. Abraham menunjukkan melalui ketaatannya bahwa kasihnya kepada Allah lebih besar daripada kasihnya pada apa pun atau kepada siapa pun, bahkan anak lelakinya yang berharga dan yang telah lama dinanti. Hati Abraham tidak terbagi; ia adalah milik Allah, baik pikiran, emosi, maupun keinginannya. Allah menguji kita dengan cara yang sama. Ia selalu menjadikan daerah kasih kita yang paling besar sebagai sasaranNya, dan bertanya, “Apakah Aku benar-benar memiliki hatimu ?” Ia mencari hati yang tidak terbagi, bertanya sama seperti Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini? “ (Yohanes 21:15). Penyembah yang benar tidak memiliki daerah dalam hidup mereka yang tidak diserahkan. Hati mereka dimiliki sepenuhnya oleh Allah.
II.     MENJADI PENYEMBAH BENAR
Ayat 19-20, wanita samaria ini begitu terikat dengan tradisi dan itulah yang terjadi pada masa perjanjian Lama. Dalam penyembahan mereka sangat terikat dengan tempat. Sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Allah menentukan tempat buat mereka untuk menyembah dan Allah hadir di sana. Tetapi Yesus mengubah tradisi (kebiasaan itu). Yesus tidak melarang kita untuk beribadah disuatu tempat, sebab tempat bukanlah penekanannya. Tetapi yang Yesus tekankan adalah fokus dari penyembahan/objek dari penyembahan ketimbang tempat untuk menyembah.
1.      Mengenal Siapa Yang Disembah
Bagi Yesus, kepada siapa kita sembah itu jauh lebih penting dari pada dimana kita menyembah. Ayat 21-22, Yesus menegaskan bahwa penyembah yang benar adalah peyembah yang mengenal siapa yang dia sembah. Objek penyembahan jauh lebih penting dari tempat penyembahan dan pengenalan terhadap objek pemyembahan itu adalah inti yang sebenarnya.
Beberapa fokus yang salah:
a.        Fokus kepada cara atau metode
Dalam zaman moderan ini, setiap orang percaya tumbuh menjadi dewasa bersama film dan televisi yang sangat berorientasi pada hiburan. Hasrat untuk dihibur ini telah mempengaruhi konsep dan pemahaman tentang penyembahan. Gereja2 berlomba-lomba untuk menciptakan cara/metode untuk membuat orang2 terhibur seolah2 orang itu telah bertemu Tuhan. Sehingga banyak orang terfokus pada cara/metode dari pada kepada Tuhan.
b.        Fokus kepada manifestasi Roh Kudus.
Dalam penyembahan sering orang mencari suatu pengalaman yang terpusat pada emosi dan bukannya perjumpaan yang berdasarkan pada kenyataan dengan Dia yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Yang menjadi fokus adalah manifestasi Roh dan bukannya berusaha untuk mengenal Dia yang rohNya tinggal di dalam kehidupan setiap orang.  Sebagai makhluk yang berorientasi visual, dengan mudah menggantikan hal yang pokok dengan simbolisme. 
c.         Fokus kepada karunia-karunia.
Fenomena yang terjadi hari2 ini banyak orang percaya yang mengejar hamba2 yang berkarunia dari mengejar Tuhan. Fokus bukan lagi kepada Tuhan yang memberikan karunia tetapi kepada karunia, makanya banyak jemaat yang tidak ada digereja krn ada hamba Tuhan yang berkarunia datang dan mereka harus mengikuti KKRnya.Tidak salah kita mengikuti KKRnya tapi fokus kita bukan kepada hamba Tuhannya tetapi kepada TUHAN.
d.      Fokus yang benar adalah Hanya kepada Allah saja
Ilustrasi: Penyembahan seperti itu sama seperti pergi ke pesta ulang tahun dan terpesona pada hiasan-hiasan, menikmati kue dan es krim, dan ikut serta dalam permainan-permainan, hanya untuk menyadari dalam perjalanan pulang bahwa mereka bahkan sama sekali tidak berbicara dengan tamu kehormatan. Penyembahan sejati berfokus pada satu pribadi dan hanya satu Pribadi saja.  Sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, hanya Allah yang layak mendapatkan penyembahan.  Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, bulan dan bintang, dan menempatkan mereka di tempatnya masing-masing.  Dialah yang membangun dan meruntuhkan kerajaan-kerajaan.  Dialah yang dilihat Yesaya “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atasNya … Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya!” (Yesaya 6:1b-3).
Oleh sebab itu, setiap orang percaya harus berhati-hati menjaga fokus penyembahan agar tetap tertuju kepada Allah saja.  Terlalu gampang untuk jatuh ke dalam perangkap untuk menyembah penyembahan sendiri diri sendiri.  Terlalu gampang untuk meninggikan talenta, kemampuan, atau pemahaman manusia sampai suatu titik merampas dari Allah penghargaan yang mestinya diterima oleh namaNya. Paulus katakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

2.         Hasil dari pengenalan Allah
a.        Allah menyingkapkan diriNya kepada manusia
Perempuan Samaria ini dibawa oleh Yesus dalam percakapan yang intim dan penuh dengan keseriusan. Yesus membuka diriNya untuk dikenal. Melalui penyembahan kita dapat mengenal Dia. Perempuan Samaria ini memiliki tingkat pengenalan Akan Allah : 1) Yesus adal seorang Yahudi (asa usul Yesus, ayat 9, 2) Yesus adalah Tuhan (Lord atau Master) artinya Tuan, ayat 11, 3) Yesus adalah seorang nabi, ayat 19, dan 4) Yesus adalah Mesias, ayat 25. Seberapa jauh dan dalam kita mengenal Allah kita. Yesus Bertanya kepada murid2 siapakah Dia? (Matius 16:12:20). Awalnya murid-murid tdk mengenal Dia.
b.        Terjadinya Perubahan Hidup (16-18)
Seorang  yang hidup dalam penyembahan akan mengerti siapa dirinya dihadapan Allah. Allah itu  kudus dan Dia tidak pernah bermain-main dengan dosa. Itu nyata saat Yesus memulai pembicaraan tentang persoalan pribadi dari perempuan Samaria ini. Saat kita sungguh mau menjadi penyembah yang benar maka Allah terlebih dahulu berbicara tentang pribadi kita. Mazmur 24:3-4, dosa membuat kita tidak dapat bertemu dengan Tuhan (Ibrani 12:14). Matius 5:23-24, menyelesaikan dosa. Yakobus 4:8, pertobatan harus dimulai dari hati.
c.         Memiliki Kuasa Untuk Bersaksi
DALAM PENYEMBAHAN MENGHASILKAN KESAKSIAN IMAN YANG DAHSYAT (40-42). Penyembahan yang benar menguatkan kesaksian kita akan Allah. Ketika penyembahan kepada Allah diperbaiki maka kita memiliki kekuatan untuk menginjil. enyembahan memberikan dampak yang sangat2 kuat dalam pemberitaan Injil. Orang yang hidup dalam penyembahan yang benar kan Allah, tidak takut untuk memberitakan Injil Kristus.
3.         Siapakah Tuhan yang kita sembah?
God is Spirit! Allah itu Roh.  Farse ini hampir sama dengan "God is Light" (1Jo_1:5), "God is Love" (1Jo_4:8). Menjelaskan siapa Allah (Bapa) yang harus kita sembah. Allah itu Roh berarti tanpa tubuh, tidak terdiri dari bahan/materi, Dia tidak kelihatan, tidak terbatas oleh apapun, dapat hadir dimanapun dan dalam keadaan apapun. Dia murni dan suci! Ini yang dijelaskan oleh Paulus ketika Paulus memperkenalkan Yesus (Allah) kepada orang-orang Athena. (Kis 17:22-29).
a.        Menyembah dalam roh (pneuma)
Mengapa kita harus menyembah Allah dalam roh? Dengan roh kita dapat berhubungan dengan Allah yang adalah roh. Manusia diciptakan oleh Allah  berbeda dengan ciptaan yang lain. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Dalam diri manusia Allah meletakan satu esensi yang sama dengan dirinya yaitu esensi roh, sehingga manusia dapat berhubungan dengan penciptanya. Ayub 33:4 Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup. Mazmur 104:30 Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Mazmur 104:29 Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu.
Pertama, dengan Roh kita memberi kekuatan pada jiwa dan tubuh kita untuk menyembah  (menghapiri) Tuhan Roh kita yang dikuasai oleh Roh kudus akan mampu memberikan kekuatanpada tubuh dan jiwa kita untuk menyembah Tuhan. Daging selalu membawa kita untuk memuaskan hawa nafsu kita tetapi roh selalu membawa kita untuk bertemu dengan Allah. Kedua, dengan roh kita mampu menyembah Tuhan dimanapun dan dalam keadaan apapunPenyembahan yang tidak terbatas adalah ketika roh kita selalu berhubungan dengan Tuhan.  Sekalipun tubuh kita beristirahat, atau sakit dihimpit oleh masalah dan tekanan, namun kita masih dapat menyembah Tuhan. Seperti yang terjadi ketika Paulus dan Silas menyembah Tuhan dipenjara (Kis 16 :25-26)
b.        Menyembah dalam kebenaran (aletheia)
Pertama, Kebenaran merupakan ciri Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan harus didalam kebenaran dan dikuasai kebenaran. Kedua, penyembahan kita harus nampak yaitu buah kebenaran. Hidup kita akan menampakan buah.
lagu rohani dari artis hiphop indonesia ...
i surrender all Jesus

Sunday, January 20, 2013

PENYEMBAHAN


PENYEMBAHAN
Pdt. DR. M.D. Wakarry
INTRODUKSI
Topik "Pujian dan Penyembahan" adalah salah satu dari thema yang paling penting dari semua pokok dalam Alkitab. Dalam dua dasawarsa akhir ini, Allah sedang memulihkan Pelayanan pujian dan sembahan para Umat-Nya secara luar biasa.
Bersamaan dengan karya Rob Kudus yang akbar dewasa ini dalam pemulihan Gereja (Yoel 2 : 28 - 29) Juga dipulihkan pujian, sorakan & sukacita seperti dinubuatkan Yoel 2:21, 23, 26. Namun, harus diakui bahwa masih banyak kalangan Umat dan Hamba Tuhan belum dapat berantisipasi dalam gerakan pemulihan pujian dan penyembahan.
Salah satu sebabnya ialah, kekurangan pengetahuan kebenaran Alkitabiah, dan langkanya pengalaman rohani dibidang ini.
Uralan ini secara khusus mengupas secara sederhana dan singkat, betapa pentingnya implementasi penyembahan dalam pelayanan gereja dan dalam kehidupan Spiritual pribadi kita sebagai Anak Tuhan, sebagai Hamba Tuhan.
ALASAN - ALASAN ALLAH
Alkitab kita memberikan dasar-dasar dan alasan - alasan yang lebih dari cukup dan sangat meyakinkan tentang peranan dan makna bahan.
Saya mengemukakan Lima Alasan mengapa Penyembahan esensial bagi Gereja Tuhan yang bertumbuh untuk mencapai kesempurnaan.
Saya percaya, Roh Kudus akan mengantar gereja kepada seluruh Kebenaran. (Yoh 16 :13). Dan Gereja harus melatih diri untuk mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada Jemaat - jemaat. (Wahyu 2: 7,11,17,29)
1. KEBENARAN ALKITABIAH
Mulai dari kitab kejadian (Kejadian 22:5) sampai dengan Kitab Wahyu (Wahyu 19:10), kita temui istilah MENYEMBAH. Di Perjanjian Lama (Bahasa lbrani) terdapat beberapa istilah yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai : Menyernbah.
Misalnya : "SEGAD" yang berarti sujud, mernbungkuk, menyembah. Kata ini terdapat di Kitab Daniel (Daniel 2 : 46, 3 : 5, 6, 7, 10, 15, 18, 28). Kemudian, "ABAD" atau "ABODAH" yang bermakna : Melayani Bekerja. terdapat di Kitab II Raja - raja (II Raja 10 : 19, 21 - 23)." Namun yang terbanyak adalah : SHACHAH kata ini terdapat sekitar 100x, mulai Kitab Kejadian sampai Zakharia.
"SHACHAH" berarti Membungkukkan diri, Meniarapkan diri sendiri, Menjatuhkan diri dalam kerendahan dan rasa hormat, sikap merendah, menghargai, mentaati.
Dalam Perjanjian Baru (bahasa Yunani) juga terdapat beberapa istilah. Misalnya : "LATREUO" (melayani, menjadi hamba, budak, melayani secara umum, terbuka) Filipi 3: 3, KPR 7 : 42, 24: 14, lbrani 10 : 2.
Namun yang terbanyak, mulai Matius sampai wahyu, adalah kata "PROSKUNEO" membungkukan merebahkan diri, menghormati, mencium). Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perianjian Baru, kita membaca istilah Menyembah sebagai suatu tindakan atau perilaku yang bersifat hormat dan intim, dari manusia kepada Allah.
2. KEHENDAK ALLAH
Dalam lnjil Yohanes 4: 23, Tuhan Yesus sendiri berkata dengan tegas bahwa : Penyembahan - penyembahan benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran: sebab Bapa menghendaki penyembah - penyembah demikian.
Yesus juga mengajar bahwa kalau kita berdoa berkatalah jadilah KehendakMu. Adalah Kehendak Allah Bapa, dan bukan organisasi, Pendeta atau aliran Gereja, bahwa sekarang kita menyembah Bapa dengan roh dan kebenaran.
3. PERINTAH YESUS
Karena Kehendak Allah, maka Yesus menginstruksikan murid muridnya sebagai berikut: Allah itu Roh dan barang slapa menyembah Dia, harus (Wajib) menyembah-Nya dalam roh dan Kebenaran. (Yohanes 4: 24)
Penyembahan bukanlah suatu dokrin Sinode gereja, bukan juga berarti interpretasi Teologia, bukan juga ajaran Pantekosta atau Kharismatik. Sebab, Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran adalah Perintah atau Instruksi Yesus Kristus kepada Murid murid-Nya. Apabila kita sungguh sungguh murid Kristus, tentu kita harus mentaati-Nya.
4. TELADAN IBADAH SORGAWI
Dalam Kitab Wahyu pasal 4 dan 5, kita membaca dan menyaksikan suatu pemandangan yang indah dan semarak di Sorga. Melalui dua pasal ini, kita dapat menyimak suasana ibadah Surgawi yang luar biasa mulia dan Kudus.
Ternyata kebaktian di Surga didominasi oleh PUJIAN & PENYEMBAHAN. Beribu - ribu laksa (1000 x 1000 x 10.000) penduduk surga, mengelilingi Tahta Allah, yang bersentral pada Anak Domba Allah (Wahyu 5: 6, 11). Mereka terdiri dari setiap suku, setiap bahasa , setiap kaum, setiap bangsa yanq pernah bermukim di dunia. (Wahyu 5:9)
Yang telah ditebus oleh Darah Yesus. Mereka mempersembahkan puji - pujian, hormat dan ucapan syukur kepada Dia. (Wahyu 4 : 9).Mereka menyembah ("PROSKUNEO") Dia (Wahyu 4:10, 5: 14)
5. IMAMAT MELKISEDEK
Dalam I Petrus 2: 9, Wahyu 1 : 6, Wahyu 5 : 10 kita membaca bahwa status Gereja orang –orang percaya adalah Iman - Iman (imamat) dan Raja - raja (Kerajaan).
Fungsi Imam diantaranya adalah mempersembahkan korban, membakar dupa (ukupan).
(I Petrus 2 : 5, lbrani 13 : 15) Imamat Perjanjian Baru bukan lagi lmamat Harun / Musa, bukan lagi Imamat yang terbatas pada suku Lewi.
Bukan lagi Imamat dengan manusia sebagai Imam besar. Melainkan Imamat dari semua Tuhan (I Petrus 2 : 10) yang telah dikasihi Tuhan, Imam Besar kita adalah Melkisedek (Raja & Imam Allah), Imam Besar yang kini duduk di sebelah tahta yang Maha Besar di surga. Dalam lbrani 13: 15 diajak agar kita senantiasa mernpersembahkan korban syukur, yaitu ucapan bibir yang memuliakan Allah.
Kata "mempersembahkan", dalam bahasa lnggris "To Offer Up", Menurut kata aslinya dalam bahasa Gerika "ANAPHERO", adalah sama dengan salinan "Septaguinta" (Perjanjian dalam bahasa Yunani) untuk Keluaran 24:5
Kita adalah lmamat Perjanjian menurut aturan Melkisedek, dimana secara langsung mempersembahkan korban sembah pujian kita pada Allah Yesus Kristus Imam Besar kita
MUSIK DALAM PENYEMBAHAN
Dalam beberapa Seminar tentang "Pujian & Penyembahan" sering muncul pertanyaan Tentang peranan music dalam Penyembahan. Khususnya kalangan GPdl, hal ini sering menimbulkan aneka ragam komentar. Sebagai patokan, kita selalu harus berlandaskan Firman Allah yang termasuk dalam Alkitab. Kita tidak boleh berpegang kepada perasaan, pengalaman masa lampau. Cerita orang-orang atau pengetahuan subjektif tidak berpijak pada Firman Tuhan kepada kita dan mentaatinya.
Musik menghasilkan nada- nada (melodi), namun vokal dihasilkan juga dari mulut / bibir manusia terdapat 12 nada dasar. Angka 12 adalah angka Pemerintahan. Kita harus memulainya dengan pertanyaan dimanakah melodi berasal, dimanakah musik bersumber?
Kitab Ayub 38 : 7 berkata : " Pada Waktu bintang - bintang Fajar bersorak-sorak bersama - sama dan semua Anak Allah bersorak - sorai ?" (When the morning stars sang together, and all the son & of God Shouted for joy?). Ayat lni mangungkapkan suatu keadaan di surga sebelum Penciptaan. Yesus adalah Bintang Fajar, namun sebelum kejatuhannya Lucifer juga adalah Bintang melodi sudah ada di surga. Bahkan Lucifer sebelum menjadi setan adalah pemusik (a master musicion) di surga.
Yehezkiel 28:13 "....workmanship of thy tabrets and of thy pipes was prepared in thee in the day that thou wast created".
Iblis yang memiliki ketrampilan dan keahlian musik di surga, kini menggalakkan musik mengembalikan musik / melodi kepada fungsinya yang kudus, untuk memuliakan, menyembah Allah. Nyayian dan alat - alat musik dimulai di Kejadian. Kejadian 31 : 27 (sukacita, nyanyian, rebana, kecapi).
Nyanyian bersama dimulai oleh Musa (Kel. 15: 1). Dan nyanyian, tarian den rebana dimulai oleh Miryam, ± 3500 tahun lalu. Ketika menggali sumur di Beer, Israel menyanyi (Bil. 21 :17, 18).
Debora dan Barak merayakan kemenangannya dengan bernyanyi (Hakim 5: 1). Dalam I Samuel 18: 6 - 7 wanita wanita Israel merayakan kemenangan Daud atas Goliat dengan nyanyian, tarian, rebana, dan gerincing (I Samuel 18 : 6 - 7).
Namun adalah Daud yang menjadi Pioneer, dalam penggunaan musik dalam urapan Tuhan. Dimulai dengan permainan kecapinya yang berkuasa mengusir roh jahat, sampai kepada pendirian Tabernakel (kemah) Daud, bahkan mempersembahkan ibadah untuk rumah Tuhan yang dibangun oleh Raja Salomo (I Tawarikh 15:16; 23 : 5 ; 2).
Perhatikan juga peristiwa akbar Pentahbisan Bait Suci dalam II Taw 5: 12 - 14, 7 : 3. Kemudian peperangan yang dimenangkan Raja Yosafat dalam II taw 20. Serta pujian dan penyembahan yang diprakarsai Hizkia dalam II Taw 29. Perhatikan pula Nehemia 11 dan 12.
Musik / melodi memiliki KUASA. lni diakui oleh umat manusia. Namun musik / melodi untuk memuji dan menyembah Allah mengandung kemahakuasaan dan kedahsyatan.
Jangankan memuji dan menyembah, I Taw 25 : 1 mengungkapkan bahwa: dalam bernubat dan melihat visi, juga diiringi musik, berarti iringan melodi dominan dalam ibadah.
Bagaimana dengan peranan melodi dalam penyembahan di dalam Gereja menurut arahan Perjalanan Baru ? Sesuatu yang essensial dalam Alkitab harus diteguhkan dengan 2 saksi. Terdapat dalam ayat di (Efesus 5 : 19, Kolese 3 : 16) yang mengetengahkan peranan melodi dalam pujian dan penyembahan.
Tiga unsur nyanyian / melodi dalam kedua ayat diatas :

PSALMOS (MAZMUR)
a striking or a twitching with the fingers or musical strings ; a sacred song sung to musical accompaniment, a psalm a, sacred ode accompanied with the voice, harp or other kinds Of instruments".BERMAZMUR dapat dihubungkan dengan :
  1. Memainkan alat musik berdawai, atau melagukan suatu gubahan lagu. (arti: Psalmos, Mizmor).
  2. Menunjuk kepada Buku Mazmur. Lukas 20: 42, 24: 44, KPR 1 : 20
  3. Menunjuk kepada suatu Mazmur khusus. KPR 13: 33, 35.
  4. Menunjuk kepada Mazmur socara Umum. 11 Kor 14: 26, Ef. 5: 19, Kol. 3: 16.
Kata Psalmo datang darl kata PSALLO terdapat dalam Yakobus 5:13 (Menyanyi) yang artinya "to made melody or to sing psalm,or sing praises" terdapat juga dalam Roma 15 : 9 (Memuliakan Allah) dan I Kor 14 : 15 (akan menyanyi) sedangkan dalam Efesus 5 : 19 berbunyi "bersorakiah" ("Making Melody").
HUMNOS (kidung puji - pujian)
A song of praise adressed to God to celebrate God an song (Hummeo). Yesus menyanyikan
dalam Matius 26 : 30, juga Paulus & Silas KPR 16: 25. Dalam bahasa Ibrani sedikitnya ada 4 kata untuk pujian "YADAH". "HALAL", "SHABACH "ZAMAR". Kata Humnos dekat dengan "HALAL" atau "HALLEL"Dalam bahasa lbrani juga ada kata terkenal Pujian yaitu 'YUDAH".
Di Gereja puji - pujian tengah dipulihkan secara luar biasa. Umat Tuhan kini memuji Tuhan de melodi nyanyian yang indah, semarak dan penuh sukacita.
ODE PNEUMATIKOS (SPIRITUAL SONGS).
Dalam Alkitab kita disebut "Nyanyian Rohani".Dilihat dari alfa Mazmur dan Kidung Pujian nyanyian Rohani. Tetapi "Nyanyian Rohani" menurut arti yang lebih adalah nyanyian ("ODE") digerakkan atau ditembangkan oleh ilhaman Roh. Nyanyian rohani memiliki hubungan dengan Yohanes 4 :24, karena Allah Roh adanya, kita wajib menyembah dalam Roh kebenaran.Kata "ODE" digunakan hanya dalam wahyu 5 untuk Nyayian Baru" di surga. Nyanyian yang digerakkan Roh, bukan sudah lebih digubah atau direkayasa.
Nyanyian ini adalah Kidung spontan yang lahir dari gerakan Roh Kudus dalam roh kita (Roma 8 : 16).Baik Mazmur, Kidung Pujian, maupun nyanyian Rohani dianjurkan oleh Efesus 5 : 19, Kol 3 : 16 dengan "making melody"' karena melody memang berasal dari surga, maka harus kita kembalikan fungsinya untuk memuliakan Allah, untuk memuji dan menyembah Allah. Iblis sekarang ini sedang getol-getolnya Mengembangkan musik bagi selera rendah manusia, misalnya lagu - lagu Heavy & Metal Rock.
Kita harus mengembangkan musik untuk pujian & sembahan kepada Allah. Sejarah musik Untuk kepentingan selera manusia dan penyembahan dewasa dimulai sejak lucifer jatuh.Yubal, turunkan Kain, memproduksi alat musik dan alat perang (Kej. 4 : 21, 22). Nebukadnezar (Menggunakan seluruh perangkat musik untuk penyembahan patung emas dirinya sendiri (Daniel 3 : 5 - 7), Saya yakin, Antikris akan nmggunakan cara yang sama untuk penyembahan patung Antrikris (Wahyu 11),Tarian & musik digunakan oleh Herodes dan Salome menyebabkan kematian Yohanes Pembabtis (Matius 14 : 16). Kelak musik Babilon tidak lagi bersuara (Wahyu 18 : 22)Seluruh spektrum musik harus digunakan untuk Tuhan. Mazmur 150 menguraikan agar kita memuji Tuhan dengan : Musik Tiup (sangkakala, seruling).- Musik Dawai (gambus, kecapi).- Musik Perkusi (ceracap, rebana).
MENYEMBAH DALAM ROH dan KEBENARAN
Dasar penyembahan kita ialah bahwa roh kita sudah dihidupkan dan dibangkitkan. Sudah Lahir Baru. Pada waktu seseorang lahir baru, lahir kembali, rohnya hidup, dapat berkomunikasi dengan Allah, sebab Allah Roh adanya. Itu sebabnya kita harus lahir baru oleh Roh.
Hanya mereka yang rohnya sudah bangkit, sudah hidup, lahir kembali (born again) dapat dipenuhi Roh Kudus.
Mereka yang sudah dipenuhi Roh Kudus dapat berkata - kata kepada Allah dengan bahasa Roh (I Kor 14: 2) dan menyanyi / menyembah (Psallo) dengan Bahasa Roh (I Kor 14 :15).
Menyembah harus dalam kebenaran, Yohanes 17:17, Firman Tuhan adalah kebenaran dan kebenaran itu kudus, Penyembahan kita harus berdasarkan pada Firman Allah, Bukan teori atau pengalaman atau perasaan. Sekali lagi: Firman Allah adalah Kebenaran Mutlak yang harus ditaati dan dilaksanakan.
Yohanes 14: 6, Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Penyembahan, ibadah, kebaktian kita harus berpusat pada Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Penyembahan, ibadah, kebaktian kita harus dipusatkan pada Yesus.
Wahyu 5 : 6, Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Penyembahan, ibadah, kebaktian kita harus berpusat pada Yesus.
Wahyu 5 ; 6, Anak Domba Allah berada di tengah - tengah Tahta Allah, di tengah - tengah 24 tua - tua. di tengah - tengah 4 makhluk, Seluruh makhluk Surgawi mengelilingi Tahta Allah. Berarti Yesus, Kebenaran itu, adalah PUSAT atau SENTRAL dalam Pujian & Penyembahan.
Yesus adalah Pusat lbadah di Surga, demikian juga di bumi (Matius 6 10). Yohanes 16: 13, Roh Kudus akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran. Apabila Roh Kudus akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran. Apabila Roh Kudus memimpin, menuntun, mengajar, mengarahkan, kita tidak akan tersesat. Sebab Roh kebenaran itu akan membawa kita kepada kebenaran yang komplet, yang sempurna.
KESIMPULAN / PENUTUP
Penyembahan adalah suatu kegiatan Mulia dan Kudus, dari Gereja yang memiliki Roh dan kebenaran. Karakter dari Roh ialah Kebebasan (11 Kor 3 : 17) dan Ketertiban (I Korintus 14: 33, 40).
Harus ada kebebasan, kemerdekaan dalam penyembahan dan juga harus ada ketertiban. Kemah Daud dewasa ini sedang dipulihkan gereja tengah dipulihkan dalam Pujlan & Penyembahan. Jangan takut terhadap kritik dan oposisi. Sebab dimana ada Pujian & Penyembahan kepada Allah, disana ada kritik dan oposisi. Sebab dimana ada Pujian & Penyembahan. Jangan takut terhadap khtik dan oposisi.
Sebab dimana ada Pujian & Penyembahan kepada Allah, disana ada kekuatan, berkata dan perlindungan.
Menyembah (Proskuneo) juga bermakna "mencium". Mencium adalah ekspresi KASIH.
Gereja yang sudah ditunangkan dengan Kristus (Kor 11 : 2) dan menjadi Mempelai Kristus (Efesus 5:32) harus dapat menyatakan kasihnya dalam penyembahan yang Kudus Mulia dan Indah kepada Tuhan kekasih kita.
 Majalah Rohani Pantekosta "Pusaka Rohani

SEJARAH DAN ORIENTASI PUJIAN PENYEMBAHAN

Pujian dan Penyembahan

SEJARAH DAN ORIENTASI
PUJIAN PENYEMBAHAN
Membaca judul ini pastilah kita segera tahu kalau yang mau dibahas di sini adalah sejarah dan orientasinya pujian penyembahan. Betul! Tetapi sebelum masuk dalam pokok pembahasan, di sini akan dijelaskan terlebih dahulu apa itu yang dimaksud dengan pujian dan penyembahan untuk menghindari kesalahpahaman antara penulis dan pembaca. Dan kemudiaan di bagian akhir nanti akan dijelaskan sedikit tentang sejarah perkembangan musik karena itu berkaitan erat dengan pujian penyembahan dalam gereja – bagi sebagaian besar orang Kristen: berbicara tentang pujian penyembahan berarti berbicara tentang musik.
I. Arti Pujian dan Penyembahan
Dalam gereja sering terdengan istilah pujian penyembahan. Menariknya, kata pujian ditujukan pada lagu-lagu rohani yang nadanya cepat sedangkan kata penyembahan ditujukan pada lagu-lagu rohani yang nadanya lembut. Apakah memang seperti itu maksudnya?
Kalau kita kembali pada akar katanya, sebenarnya kata pujian ini berarti ucapan syukur kepada Allah yang diekspresikan dengan berbagai cara dalam bentuk kata-kata, nyanyian, gerakan tubuh dan permainan alat musik. Sedangkan penyembahan adalah sebuah pengabdian hidup sepenuhnya kepada Tuhan melalui gaya hidup kita sehari-hari. Dan puji-pujian kita adalah salah satu ekspresi dari penyembahan kepada Tuhan.
Hanya karena istilah pujian penyembahan ini sudah lama berakar di gereja dan selalu dipahami oleh banyak orang Kristen sebagai nyanyian rohani jadi dalam pembahasan ini kita tetap menggunakan istilah pujian penyembahan.
II. Sejarah Praktek Pujian Penyembahan
1. Pujian Penyembahan pada zaman Adam-Hawa
Kita harus akui bahwa tidak ada catatan sejarah yang mencatat tentang praktek pujian penyembahan pada zaman Adam-Hawa. Walaupun begitu bukan berarti kita tidak dapat melacak praktek pujian penyembahan nenek moyang kita ini. Setidaknya kita masih memiliki Alkitab yang bisa memberikan informasi.
Laporan Alkitab tentang pujian penyembahan Adam-Hawa tidak seperti pujian penyembahan yang kita kenal saat ini, yaitu dalam bentuk lagu-lagu rohani yang diiringin dengan permaianan sejumlah alat musik. Barangkali mereka juga mempraktekkan hal seperti itu tetapi pujian penyembahan mereka lebih bertumpu pada hubungan pribadi dengan Allah di Taman Eden.
2. Pujian Penyembahan pada zaman Abraham-Ishak-Yakub
Mengacu dari pola pujian penyembahan Adam-Hawa tadi yang menekankan pada hubungan pribadi dengan Allah maka kita bisa mengatakan bahwa pujian penyembahan ketiga leluhur Israel ini dipraktekkan dalam bentuk mendirikan mezbah dan pemberian korban bakaran kepada Tuhan. Semenjak mereka dipilih dan dipanggil Allah menjadi umat-Nya saat itulah mereka terbiasa memberikan korban bakaran kepada Tuhan sebagai wujud pujian penyembahan mereka (Kej. 12:7-9; 15:9-10; Kej. 35:7). Selain itu pujian penyembahan mereka juga diekspresikan secara fisik dimana ketika mereka berhadapan dengan hadirat Tuhan mereka jatuh tersungkur menyembah sambil mengucapkan kata-kata pujian yang mengagungkan Allah (Kej. 18:1-15).
3. Pujian Penyembahan pada zaman Israel
Pujian penyembahan yang diekspresikan dengan menyanyikan lagu-lagu dan permaianan alat musik pertama sekali diperkenalkan dalam Alkitab saat perayaan kemenangan Tuhan atas pasukan Firaun (Kel. 15:1-12). Selanjutnya bangsa Israel menjadikan pujian penyembahan ini bagian tak terpisahkan dari ibadah kepada Tuhan. Raja Daud membentuk paduan suara dan orkestra dari suku Lewi untuk ibadah di Kemah Suci. Kemudian ketika Salomo mendirikan Bait Suci, pergelaran musik rohani menjadi semakin semarak. Yosephus, seorang sejarawan Yahudi mengatakan bahwa ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi berjubah yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah ini. Dan II Tawarikh 5 memberikan laporan tentang hadirnya sejumlah besar penyanyi dan instrumen musik dalam ibadah kepada Tuhan.
4. Pujian Penyembahan pada zaman Yesus dan Rasul-rasul
Sebagai orang Yahudi, Yesus dan rasul-rasul ikut mempraktekkan upacara agama Yahudi termasuk unsur pujian penyembahannya. Saat itu di kalangan orang Yahudi pujian sangat diperhatikan dalam ibadah yaitu dengan menyanyikan lagu-lagu rohani dari Kitab Mazmur (Maz. 113-118 bdn Mat. 26:30). Ada juga nyanyian lain yang diambil dari kitab lain seperti di Ul. 6:41 dan Yes. 6:3. Biasanya ibadah ini dilakukan dengan penuh semangat, bergembira, menari dan menyanyikan lagu tentang Taurat.
5. Pujian Penyembahan pada zaman Gereja Purba
Pada masanya gereja purba mengahdapi penganiayaan dari dua arah, yaitu dari orang Yahudi dan pemerintah Romawi. Akibatnya ketika beribadah termasuk menyanyikan pujian penyembahan terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Walaupun demikian tetapi pujian penyembahan tetap menjadi ekspresi sukacita orang-orang Kristen. Sejarah mencatat bahwa banyak martir yang mengahadapi kematian sambil mendendangkan lagu pujian tentang Juruselamat mereka. Pada masa ini juga puji penyembahan sudah ditujukan kepada Yesus sebagai pribadi Allah.
Sumber utama lagu-lagu rohani gereja perdana ialah Kitab Mazmur. Dan selain itu kita juga mendapati sejumlah nyanyian baru seperti nyanyian Maria (Luk. 1:46-55), nyanyian Zakharia (Luk. 1:68-79), nyanyian para malaikat (Luk. 2:14), nyanyian Simeon (Luk. 2:29), nyanyian Yesus (Mat. 26:30). Nyanyian lain dalam Perjanjian Baru ialah nyanyian Paulus dan Silas dalam Kis. 16:25 dan nyanyian orang-orang tebusan dalam Wah. 14:3 dan 15:3. Musik gereja mula-mula kebanyakan vokal, dengan sedikit perhatian terhadap pemakaian instrumen.
6. Pujian Penyembahan pada zaman Reformasi Gereja
Gerakan reformasi gereja yang dipimpin oleh Marthin Luther dan John Calvin tidak hanya memberikan perhatian pada masalah doktrin tetapi juga pada masalah pujian penyembahan. Perhatian tokoh-tokoh reformasi ini diwujudkan dengan menggubah lagu-lagu rohani dari Kitab Mazmur. Calvin mengatakan bahwa Mazmur adalah nyanyian yang paling banyak memuji Allah dan merupakan ciptaan Roh Kudus. Selanjutnya ia mengatakan: ”kita memerlukan nyanyian yang bukan saja indah tetapi juga bersifat suci dan yang mengingatkan kita untuk berdoa kepada Allah untuk memuji Tuhan dan untuk merenungkan perbuatan-Nya, agar kita mengasihi-Nya dan takut akan Dia serta menghormati dan memuliakan Dia.”
Di Indonesia, semangat pujian penyembahan para reformator ini umumnya diteruskan oleh gereja-gereja yang berada di bawah naungan PGI. Mereka bekerjasama dengan Yamuger untuk menghasilakan nyanyian rohani yang baik.
7. Pujian Penyembahan pada zaman Modern
Pujian penyembahan saat ini didominasi oleh gerakan yang menamakan dirinya pentakosta-kharismatik. Pujian penyembahan merupakan unsur terkuat dalam ibadah. Ini dilengkapi dengan musik sejenis pop dan gerak tubuh yang ekspresif seperti bertepuk tangan, menari, mengangkat tangan dan lain-lain. Semua ekspresi itu umumnya bersifat perayaan.
III. Orientasi pujian Penyembahan
Saat ini boleh dikatakan sebagai masa agung dari pujian penyembahan. Seorang tokoh mengatakan demikian: ”Belum pernah terjadi dalam sejarah gereja dimanaTuhan begitu ditinggikan dan disembah dengan semangat dan gairah yang luar biasa seperti sekarang ini.” Hal itu ditandai dengan pembangunga Praise Center, peregelaran acara Pujian Penyembahan dan penyelenggaraan seminar Pujian Penyembahan seperti yang kita lakukan hari ini.
Kebangunan pujian penyembahan ini tentu saja sangat menggembirakan kita orang Kristen dan memberikan sumbangan besar bagi kemajuan gereja. Namun sebagaiaman ungkapan yang mengatakan tidak ada gading yang tidak retak, pujian penyembahan ini pun di satu sisi dalam beberapa hal perlu dikoreksi. Koreksi yang dimaksud, penulis fokuskan dalam hal tujuan pujian penyembahan.
Jujur ada banyak lagu-lagu pujian penyembahan yang terkesan meninggikan Tuhan tetapi di balik itu ada motivasi yang tidak beres, yaitu kepentingan ego manusia. Dan sedihnya hal ini sudah berlangsung lama tanpa kita sadari. Adapun kepentingan ego tersebut seperti:
1. Pemuliaan diri sendiri
2. Memenuhi perasaan
3. Menjadikan sebagai sarana hiburan
4. Sekedar menyalurkan bakat
Jelas motivasi ini salah dan tidak sesuai dengan pujian penyembahan yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kalau kita kembali pada arti kata pujian (penyembahan) maka seharusnya itu ditujukan kepada Tuhan saja dan sedikit pun tidak ada kepentingan manusia di sana.
Saran-saran bagi pelaksanaan pujian penyembahan:
1. Lakukanlah dengan hati yang bersih
2. Lakukanlah untuk kemuliaan nama Tuhan
3. Lakukanlah dengan tidak dikekang oleh suatu metode manusia
1. Ciptakanlah lagu yang didasari kebenaran Alkitab
2. Ciptakanlah lagu dengan menguti ayat-ayat Alkitab
3. Ciptakanlah lagu dengan prioritas untuk kemuliaan Tuhan
1. Seleksilah lagu khususnya lagu-lagu kontemporer.
2. Gunakanlah lagu-lagu yang sesuai dengan kebenaran Alkitab
3. Pimpinlah jemaat menyanyikan lagu-lagu untuk keagungan nama Tuhan
IV. Sejarah Perkembangan Musik Rohani
Musik yang kita kenal saat ini termasuk musik rohani tidak muncul dengan sendirinya atau merupakan hasil ciptaan manusia modern. Sebenarnya musik berasal dari Tuhan sendiri. Tuhanlah yang menciptakan dan yang empunya musik. Kemudian musik ini dipercayakan kepada malaikat Lucifer sebelum kejatuhan untuk mengelolanya bagi keagungan nama Tuhan saja (Yes. 14:11-12; Yeh 28:12).
Dalam kebudayaan manusia musik pertama sekali diperkenalakan oleh seorang yang bernama Yubal (Kej. 4:21). Kemudiaan musik ini dipergunakan oleh orang Mesir dalam ritual agama mereka. Orang Mesir memiliki banyak instrumen musik. Pengetahuan musik ini diteruskan kepada orang Yunani dimana mereka menggunakannya dalam penyembahan kepada dewa-dewa.
Musik rohani diperguankan juga dalam ibadah orang Yahudi kepada Tuhan hanya itu tidak terlalu dikembangkan. Barulah pada masa kekristenan musik rohani mengalami kemajuan pesat. Para pemimpin gereja mendorong jemaat untuk banyak memuji Tuhan. Dalam gereja lahir berbagai jenis musik yang berpengaruh sampai sekarang. Dan puncaknya, yaitu ketika para imigran dari Eropa (Inggris) membawa musik rohani ke benua Amerika. Dan dari sanalah kemudian musik rohani yang kita kenal sekarang menyebar ke seluruh dunia

GBU...